

Jakarta, 22 Juni 2010
“Enjoy Jakarta” itulah slogan kota Jakarta yang akhir-akhir ini sering kita dengar. Disebut enjoy Jakarta karena Gurbenur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengiinginkan banyak orang dapat menikmati berbagai tempat wisata di kota metropolitan ini mulai dari kebun binatang ragunan yang menyajikan beraneka satwa sampai tempat rekreasi yang memacu adrenalin dengan permainan-permainan yang ada yaitu dunia fantasi atau kita ingin berwisata sambil belajar sejarah mengenai kota Jakarta kita dapat pergi kemuseum-museum yang ada.
Meskipun ditengah kota Jakarta sudah menjelma menjadi metropolitan gedung pencakar langit serta sarana transportasi modern ternyata hingga kini Jakarta masih menyimpan peninggalan sejarah, yaitu berupa museum yang ada di kawasan yang disebut “Kota Tua Jakarta Kota”. Khusus dikawasan kota tua ini ada museum Jakarta (Museum Fatahillah), museum wayang, museum seni rupa, museum keramik, museum bahari, museum tekstil, dan museum Bank Indonesia.
Jika anda ingin menelusuri kota tua ini, anda dapat menggunakan alat transportasi umum Bus Kopami 02 dari stasiun senen, ongkos yang dikeluarkanpun hanya Rp.2.500,-atau anda ingin yang nyaman anda dapat menggunakan BUS Trans Jakarta atau yang akrap dengan sapaan BUSWAY, namun ongkos yang dikeluarkan lebih besar yaitu Rp.3.500,- anda akan diturunkan dishelter stasiun kota. Lalu anda jalan sekitar 50 meter ke utara menuju kawasan kota tua. Saat berjalan menuju kota tua ini anda akan menjumpai orang yang bersepeda onthel menawarkan untuk mengelilingi areal sekitar museum dengan menggunakan sepeda tersebut, hanya dengan merogoh kocek Rp. 25.000,- anda bisa merasakan nikmatnya udara sore hari dikota tua tersebut, disarankan anda menaikki sepeda tersebut disore hari, karena cuacanya tidak terlalu panas disbanding siang hari. Lalu anda juga bisa menikmati jajanan khas Jakarta sambil menaikki sepeda onthel atau sambil berjalan menyusuri areal kota tua tersebut seperti es potong dan kue pepe yang murah meriah, anda cukup mengeluarkan Rp. 2.000,- saja.
Saat anda menyusuri kota tua tersebut pertama anda akan terpesona museum Sejarah Jakarta yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat. Anda akan dikenakan biaya Rp. 2.000,- untuk orang dewasa dan Rp. 500,- untuk anak-anak. Areal museum yang luasnya lebih dari 13.000 meter persegi. Bangunannya bergaya arsitektur kuno abad ke-17, Dulunya gedung ini bernama Stadhuis atau Balai Kota. Museum Sejarah Jakarta berdiri pada 30 Maret 1974, Berbagai obyek yang dapat disaksikan di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-18, keramik, gerabah, dan batu prasasti. Koleksi-koleksinya terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Fatahillah, Ruang Jayakarta, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin. Ada juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan kini diperkaya dengan patung Dewa Hermes yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang dipandang mempunyai kekuatan magis. Jangan lupa, di Museum Sejarah Jakarta terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulunya sangat menakutkan, penjara ini sebagai tempat hukuman bagi orang-orang yang membangkang terhadap pemerintah Belanda.
Tak jauh dari Museum Jakarta, menyeberang ke arah kiri, terdapat Museum Wayang, Letaknya di Jalan Pintu Besar Utara Nomor 27, Jakarta Barat. Semula bangunan ini bernama De oude Hollandsche Kerk, pemakaian Museum Wayang diresmikan pada 13 Agustus 1975. Museum Wayang memamerkan berbagai jenis dan bentuk wayang dari seluruh Indonesia, baik yang terbuat dari kayu dan kulit maupun bahan-bahan lain. Wayang-wayang dari luar negeri ada juga di sini, misalnya dari Cina dan Kamboja. Hingga kini koleksinya lebih dari 4.000 buah, terdiri atas wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka dan gamelan. Umumnya boneka berasal dari Eropa.
Setelah anda melihat-lihat berbagai koleksi dari Museum Wayang, anda menyeberang ke arah kanan terdapat Museum Seni Rupa dan Museum Keramik. Kedua museum ini terdapat dalam satu gedung, yaitu Balai Seni Rupa dan Keramik masih dijalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat. Museum Seni Rupa memamerkan aneka macam karya seni lukis dari berbagai aliran, seperti naturalisme, abstrak dan surealisme. Pelukis Indonesia yang karyanya tersimpan di sini antara lain Raden Saleh, Affandi, Sudjojono, dan Basuki Abdullah. Museum Keramik menampilkan koleksi keramik lokal dan keramik asing, baik berupa hasil penggalian arkeologis maupun sumbangan dan pembelian dari berbagai pihak. Keramik Cina terbanyak jumlahnya, menyusul keramik. Jepang, Siam (Thailand), Annam (Vietnam), dan Eropa. Koleksi keramik lokal di antaranya berasal dari Kasongan, Plered, Malang, Palembang, dan Singkawang. Selain keramik tradisional juga digelar kemarik modern atau keramik kreatif hasil karya seniman-seniman Indonesia.
Sedikit ke utara terdapat Museum Bahari. Lokasinya di Jalan Pasar Ikan No. 1, Jakarta Barat. Museum ini menyajikan koleksi yang berhubungan dengan kehidupan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Koleksi-koleksi itu terdiri atas berbagai jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias. Disajikan pula berbagai model kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Di sisi lain ditampilkan koleksi biota laut dan aneka perlengkapan nelayan. Jangan lupa juga sehabis anda dari museum bahari anda balik lagi ke jl. Taman Fatahillah anda akan menjumpai banyak orang dari berbagai komunitas yang menikmati suasana sore hari disekitar taman tersebut ada yang sekedar hanya berfoto-foto dengan latar belakang gedung Fatahillah, atraksi sepeda dari para Bikers, dan Skaters bahkan bagi para pencinta fotografi juga bisa bergabung dikomunitas pencinta fotografi
Lelah berjalan-jalan menyusuri kawasan kota tua anda bisa bersantai sejenak di kafe yang berada disebelah timur pintu utama yaitu “Kafe Museum”, kafe ini merupakan sarana pelengkap dari museum Fatahillah, dengan memanfaatkan gedung tua yang berasitektur colonial dan penataan interiornya yang disesuaikan, dilengkapi dengan pernak-pernik yang mengingatkan kita pada masa colonial. Yang menarik dari kafe ini adalah daftar menu makanan yang bernuansa betawi tempo doeloe yang sudah dipengaruhi beberapa budaya seperti Cina, Arab, dan Belanda mulai dari
Portuguese steak, ong tjai ing, kwee tiaw, tuna sandwich sampai pisang goreng “Nyai Dasimah” ada dikafe ini. Jika ingin mendengarkan lagu-lagu tempo doeloe kafe ini menyajikan traditional live music seperti tanjidor, orkes keroncong, dan aneka tarian betawi.
Jika matahari sudah tenggelam anda dapat menikmati tatanan lampu ditaman Fatahillah yang indah. Tatanan lampu yang berasal dari bawah batu serta lampu-lampu yang disekeliling taman membuat atmosfer ditaman fatahillah tersebut berbeda dengan situasi pada siang hari. Hembusan angin malam yang sedikit membuat kita dingin tak mengurangi keindahan kawasan kota tua, adalagi wisata yang unik yang dapat anda nikmati yaitu “wisata malam dimuseum Fatahillah” mungkin kedengarannya cukup angker, namun wisata ini paling banyak dinikmati dengan uang Rp. 70.000,- anda akan mendapatkan fasilitas seperti makan malam, tiket masuk museum, pin, tur guide, dan kesempatan untuk menonton film tempo doeloe, cukup mahal namun sebanding dengan keindahan dan pengetahuan mengenai sejarah yang kita dapat. Tur ini sendiri biasanya dimulai sekitar pukul 18.30 hingga 22.00. “ Kota Tua emang Indah apalagi kalau malam, dan saya suka menikmati kota tua ini pada malam hari, biasanya untuk kumpul atau sekedar berkenalan dengan komunitas yang kumpul disini juga” papar Melatie Mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. (Ta)