Jumat, 25 Juni 2010

Menikmati Pedasnya Oseng Mercon

jakarta, 25 juni 2010

Mercon, mungkin anda sering mendengar kata tersebut dan mengidentifikasikan dengan sebuah benda yang menghasilkan suara besar apabila benda tersebut dibakar. Tapi, bagaimana jika sebuah mercon disajikan dalam makanan?, tentu anda akan bertanya makanan apakah yang bernama mercon tersebut.

Salah satu warung tenda di jalan Jendral Sudirman menyajikan masakan yang bernama oseng-oseng mercon. Nama warung tersebut adalah Pondok Srikandi, warung ini menyajikan menu-menu yang kebanyakkan didomisili makanan jawa. “Oseng-oseng mercon ini terkenal dengan rasa pedasnya yang sangat pedas serta daging sapi yang murni dan tanpa dicampur oleh tetelan” kata Erna (37) pemilik warung Srikandi yang merintis warung tenda tersebut dari nol. Erna menambahkan ia tidak mencampurkan tetelan kedalam oseng-oseng tersebut karena target pasar dirinya bukan mahasiswa, jadi harga yang ditawarkan cukup mahal yakni Rp.18.000,-/porsi, jika ia menambahkan tetelan kedalan oseng-osengnya maka harganya bisa sedikit lebih murah. Warung yang dibuka pukul 16.00 wib sampai pukul 24.00 selalu ramai dikunjungi para penikmat kuliner pedas.

Asal mula oseng-oseng mercon Srikandi ini berawal dari hobi makannya Erna saat duduk dibangku kuliah, saat itu didekat keraton ada warung bernama “oseng mercon” diwarung tersebut beraneka ragam jenis oseng-osengnya ada yang dari oseng tempe sampai oseng daging, saat ia merantau ke Jakarta ibu dua anak ini mengembangkan idenya untuk membuat oseng mercon tersebut, namun ia hanya menyajikan menu oseng mercon dan oseng bledex, dan wanita lulusan salah satu perguruan tinggi di Jogyakarta menginovasikan rasa oseng-oseng tersebut dengan campuran bumbu oriental, karena ia melihat pangsa pasar di Jakarta yang notabene penduduknya sekarang didominasi orang chinnese.

Bumbu dari oseng-oseng mercon sendiri menggunakan rempah-rempah asli dari Indonesia, yakni laos, kunyit, bawang merah, bawang putih, cabe rawit, daun jeruk, jahe, sereh, bawang Bombay, dan tomat sedangkan bumbu yang membuatnya terasa pedas adalah cabe rawit, cabe merah yang besar, paprika merah dan total dari cabai yang digunakan dalam satu porsi adalah 7 cabai. Bedanya oseng bledex dengan oseng mercon terdapat di dagingnya, oseng bledex menggunakan daging ayam, sedangkan mercon menggunakan daging sapi, bumbu yang dipakai sama bedanya hanya oseng bledex kunyitnya lebih terasa.

Menurut erna kendala dari warung Srikandi ini adalah keterbatasan modal dan pemasaran warung yang telah berdiri sejak tahun 2007 lalu, ia menuturkan bahwa keinginannya untuk mempunyai warung makan yang permanent, ia tidak nyaman dengan keadaan warungnya yang masih menggunakan tenda tersebut, walaupun tempat yang ia pakai tidak mengganggu badan jalan, tapi saat cuaca hujan warung tenda tersebut penuh air dan membuat pengunjung tidak nyaman. Satu lagi adalah keterbatasan pemasaran, karena ia seorang perantauan dari daerah, ia tidak punya saudara atau teman untuk memasarkan warung Srikandinya tersebut, ia hanya mengandalkan pemasaran dari pengunjung yang telah menjadi pelanggan tetapnya.

Selain menu oseng-oseng pedasnya ada beberapa menu lagi yang dapat menjadi pertimbangan anda jika dating ke warung Srikandi tersebut, menunya yakni aneka bebek pedas original (khas banyuwangi) dengan harga Rp.17.000,- atau aneka ayam mulai dari ayam rica-rica sampai ayam kampung bakar dengan merogoh kocek Rp. 13.000,- perut anda sudah kenyang.

Menurut Herman (22) salah satu pengunjung warung Srikandi yang baru pertama kalinya mencoba oseng mercon “Pedasnya mantap, terasa banget pedesnya waktu kita menelan makanan ini, pokoknya cocok untuk penikmat rasa pedas” ujarnya. (Ta)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar