
Pernahkah terlintas difikiran anda bahwa anda akan selalu mencuci darah anda setiap dua kali seminggu?, atau pernahkah anda terfikirkan bahwa hidup anda ada disebuah alat yang membantu anda untuk tetap bernafas?, ya itulah yang dirasakan oleh salah seorang penderita gagal ginjal yang harus mencuci darahnya setiap dua minggu sekali.
Adalah Marwa (44) pasien gagal ginjal yang selalu mencuci darahnya dengan dibantu oleh alat, nama dalam ilmu kedokteran bagi pasien yang cuci darah adalah Hemodialisa. Sebuah terapi yang harus dijalankan bagi penderita gagal ginjal agar mereka bisa tetap bernafas, karena disinilah mereka menaruh harapan yang besar untuk tetap hidup.
Wanita yang bekerja disalah satu lembaga milik Pemerintah di Jakarta ini telah menjalani terapi Hemodialisa selama lima tahun, Marwa memilikki 3 anak yang kesemuanya masih harus bersekolah, sedangkan ia harus mencuci darah setiap dua kali seminggu, yang tentu saja harganya tidak murah.
Di Rumah Sakit di kawasan Jakarta Pusat yang notabenenya rumah sakit milik pemerintahpun harga untuk melakukan Hemodialisa tidaklah sedikit, sekali ia melakukan cuci darah Marwa harus mengeluarkan uang Rp.1.000.000,-. Itupun sudah mendapat potongan 30 persen karena keluarganya ada yang bekerja disana.
Jarum panjang dan selang kecil yang terhubung dengan alat untuk mencuci darah selalu menempel saat ia melakukan Hemodialisa. Proses cuci darahpun terbilang cukup lama, membutuhkan 5 jam untuk merasakan sakitnya saat cuci darah. Mual, pusing, dan tentunya keram karena terlalu lama dalam proses cuci darah. Namun bagi Marwa ia tetap harus melakukannya agar dirinya dapat melihat anak-anaknya lebih lama lagi. Darah yang diambil dari pembuluh darah vena masuk kedalam mesin lalu didalam mesin tersebut darah dicuci dengan menggunakan campuran obat yang membuat darah jadi bersih lagi, kemudian darah dimasukkan kembali dengan menggunakan slang yang lainnya.
Kehidupan Marwa terbilang cukup pelik dengan menderitanya gagal ginjal ini, rumahnya yang terletak di suatu perkampungan Condet, membuat dirinya tak minder dengan apa yang ia punya, ia tetap harus berjuang demi keluarganya “Saya sebenarnya capek seperti ini” ujar dirinya. Namun untungnya dirinya mempunyai suami yang sabar, yang masih sayang dan mau menerima dirinya seperti sekarang “Suami saya sangat sayang pada saya, begitu juga anak-anak saya yang sangat mengerti dengan keadaan saya serta ga malu melihat badan ibunya kurus karena isinya hanya air” katanya sambil meminta suaminya untuk memijatkan palanya, karena efek dari cuci darah adalah pusing
Harapan Marwa dengan keadaannya dia seperti ini adalah bahwa ia ingin anak-anaknya sekolah sampai perguruan tinggi “ Baru satu nak saya yang sedang kuliah, dua lagi masih sekolah, saya pengen liah anak saya semua kuliah terus kerja, namun semua hanya yang diatas yang ngatur ya mba, mudah-mudahan saya masih diberi umur panjang” ujarnya.
Marwah terbilang sosok wanita dari banyaknya sekian wanita yang bernasib sama seperti dirinya. Keinginan Marwa untuk hidup normal seperti kebanyakkan wanita lainnya sering ia bayangkan, namun Tuhan berkehendak lain. Marwa sebagai manusia hanya menerima apa yang Tuhan berikan dan semangat Marwah untuk bertahan hidup membuat kita sebagai manusia bersyukur masih diberikan umur dan kesehatan yang baik. (TA)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar